Jumat, 28 Maret 2014

Tentang Salju, dan Hidupnya

Ini salju.
Salju putih yang dingin dan beku. 
Salju kecil bagai debu.
Salju yang saat dia jatuh akan terlupakan.
Oh, salju...
Oh, salju...

Ini bukan hanya soal salju, ini soal, bagaimana kita hidup. Bagaimana menggunakan topeng, bagaimana menyembunyikan, bagaimana menghadapi, dan bagaimana mengatasi. Jika bertanya, bisakah salju menjadi jawaban? Salju hidup di musim dingin, musim dimana semua kehangatan mulai sirna. Peri air membeku dan bahkan angin dingin bernyanyi rintih. Lalu apa yang salju lakukan?

Dia merasa bersalah
Dia menyesal
Dan saat itu, dia jatuh..

Salju hidup dalam penyesalan, dia merasa bersalah dan takut untuk berbuat. Ketika dia berkata satu kalimat, maka dia berpikir berjuta juta kali lipat dari apa yang dia ucapkan. Salju selalu berpikir, setiap dia berpikir, dia menangis. Tangis itu tak mengering, juga tak habis. Selalu ada dan abadi. Tangisan itu, tak hanya tetesan air mata.

Unshed Tears
Silent Tears

Maka, saat itu, salju segera mengenakan topengnya. Menutupi segala yang dia rasakan. Seluruhnya. Sehingga, dia bisa berkata

"Aku baik baik saja," Ketika dia jatuh.

Salju tak peduli. biarkan dia tenggelam dalam perasaannya, tak perlu menarik orang lain. tak perlu memaksa orang lain. Salju tersenyum dalam pahitnya, dan dia berpikir, apakah hidup akan terus berjalan seperti ini?

Salju melihat sekelilingnya, 

Ada daun daun yang berguguran, tupai kecil yang berlari, laba laba dengan jaringnya, dan kucing yang terseok seok kedinginan.
Dia ingin menangis saat itu.
Namun, dia sadar akan sesuatu. Dia lupa akan sesuatu. Dan kini, dia mengingatnya..

Ini masalah pada hatinya, bukan pikirannya.

Salju merasakan perih di dadanya, sesak, dan meresahkan. dia merasa tidak nyaman. sakit nya semakin parah, dan belum ada penyembuhnya. Salju benar benar rapuh, sedikit lagi dia akan hilang meleleh.
Dan saat itu, salju membulatkan tekadnya. Menguatkan hatinya.

Dia tersenyum, berusaha, namun tidak palsu.

Sedikit demi sedikit, dia membuka topengnya. Menumpahkan perasaannya, dan kembali menangis. Dia menangis namun tersenyum. Salju masih mempertahankan senyumnya. Dia masih kuat, bukan, dia memang sudah benar benar menjadi kuat. Salju tersenyum meski tetesan air matanya tak kunjung berhenti, meski hatinya tak kunjung sembuh.

Dia menjadi kuat karena senyum tulusnya, itu berarti dia menyelesaikan semuanya saat itu juga.

Salju bermain, dia menggenggam erat tangan dengan balutan kain tebal yang tengah mengangkatnya.

"Aku suka bermain dengan salju!" 

Tangan itu hangat. dia membuat salju kembali hidup. Salju kini sadar,

mengapa dia harus merasa sedih dan bersalah ketika banyak tangan yang akan bermain dengannya suatu saat nanti? bukankah dia hanya perlu tersenyum dengan tulus untuk mendapatkan semua itu? bukankah dia hanya perlu perca ya kepada tangan tangan hangat yang akan menggenggam nya?
Yang akan memberinya kekuatan

Kekuatan untuk bangkit kembali, kekuatan untuk terus tersenyum 


Lalu, saat dia mulai meleleh, meninggalkan tangan tangan itu, meninggalkan senyumnya. biarlah musim semi yang menggantikannya.
dengan bunga bunga yang bermekaran, yang lebih indah, yang lebih banyak tersenyum, biarlah salju digantikan oleh mereka. Karena salju,

Karena salju sudah cukup bahagia hingga akhir hidupnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar